Anak Pemulung di Bali Juara Foto Internasional


Metrogaya-”Ayam Ini Gantungan Hidupku” judul dari sebuah foto yang dibuat oleh
Ni Luh Mertayani (15), anak pemulung yang hidup yatim memenangkan lomba foto internasional yang digelar Yayasan Museum Anna Frank di Belanda, mengalahkan peserta yang berasal dari 200 negara, beberapa waktu lalu. Atas prestasinya itu Ni Luh Mertayani yang masih duduk di kelas III SMPN 2 Abang, Karangasem diundang ke Belanda untuk menerima hadiahnya.

Mertayani berasal dari keluarga miskin. Dia tinggal di Bias Lantang Desa Purwakerti, Abang, Karangasem. Dia tinggal di gubuk berdinding pelepah daun kelapa, beratap asbes dengan rumah berlantai tanah. Rumahnya bisa dibilang tak layak huni. Sehari-hari, dia membantu ibunya berjualan asongan di Pantai Amed. Dia menawarkan minuman ringan kepada wisman. Pekerjaan rutin itu dilakoni tiap sore atau saat libur hari Minggu. Guna menambah bekal sekolah, dia nyambi memungut rongsokan, sampah rumah tangga dari plastik atau besi. Dia nyambi mulung — mengumpulkan barang bekas yang bisa dijadikan uang. Pekerjaan ini juga dilakukan ibunya, selain berjualan asongan.

Karena tiap hari berjualan asongan di pantai, dia akrab dan bisa berkomunikasi dengan wisman. Melihat kehidupannya yang sederhana dan cukup memprihatinkan, dia pun menarik perhatian seorang wisman. Dia diberi sebuah kamera oleh seorang wisman Belanda Mrs. Dolly. Dia mencoba belajar memotret dilatih wanita Belanda itu. Sebuah karya foto cukup indah yakni ayam kampung yang hendak tidur menjelang senja di ketela pohon sebagai pohon perindang di halaman gubuknya, dipotret sebanyak 15 jepretan. Sebelumnya, dia sudah ke sana-ke mari mencari objek foto.

Ternyata fotonya itu yang dikirim, dan berhasil menyisihkan karya foto lainnya dari peserta 200 negara. Karyanya menjadi juara, tak lepas dari latar belakang kehidupan Mertayani dan keluarganya yang serba kesulitan.

Perjuangan Hidup
Dia bertahan hidup di tengah kesusahan, mirip perjuangan hidup seorang Anna Frank. Tokoh ini seorang bocah Jerman keturunan Yahudi. Saat pembantaian bagi kaum Yahudi oleh rezim Hitler, Anna Frank berhasil lari, selamat dan bersembunyi di sebuah kamp. Saat itu umurnya sekitar 12 tahun.

Di dalam persembunyian, dia rajin menulis catatan harian bagaimana dia lari dan bertahan hidup di tengah kejaran tentara Nazi yang kejam. Pada akhirnya, Anna Frank terkenal berkat tulisan-tulisan dalam buku hariannya itu, sementara seluruh anggota keluarganya tewas dibantai tentara Nazi.

Mertayani, anak pemulung itu atas karyanya yang dipandang cukup spektakuler, dia diundang ke Belanda selama sepuluh hari yakni sejak 28 April sampai 8 Mei. Selain mendapatkan hadiah keliling Negeri Kincir Angin, dia juga mendapatkan beasiswa, hadiah kamera, dan laptop serta biaya hidup bersama keluarganya.

Saat ditemui di gubuknya, Mertayani mengaku bahagia atas hadiah itu. Dia pun mengaku kian bersemangat belajar dan nantinya melanjutkan ke SMA, dengan harapan menjadi anak yang sukses, sehingga bisa membantu hidup keluarganya.

Narasi sang juara tentang fotonya:
The chickens in the tree are our little investment to earn some money for our daily needs. This place in front of our little house at the beach is a lovely placeIf only we could stay at this place… If only we would have a house of stone instead of bamboo which can collapse by strong winds…If only we would have more than one bedroom for the three of us and where the wind and rain stays outside our bedroom…If only we will have the money to continue school to make our ambitions come true.

After reading The diary of Anne Frank it is my ambition to be a journalist. So I take this opportunity to tell a piece of my life story. I want to tell the world how it is to be poor. I hope my story will help to get a better live for everyone. I hope that as a journalist I also can earn money and make our dream of our own lovely place come true. Source Here

Terjemahan :
Kutip:Ayam-ayam di pohon adalah investasi kecil kami untuk mendapatkan uang untuk kebutuhan sehari-hari. Tempat ini ada di depan rumah kecil kami di suatu pantai yang indah … Jika saja kita bisa tinggal di tempat ini … Jika saja kami memiliki rumah dari batu, bukan bambu yang dapat runtuh oleh angin yang kuat … Jika saja kami memiliki lebih dari satu tempat tidur untuk kami bertiga dan di mana angin dan hujan terjadi di luar kamar tidur kami … Jika saja kami punya uang untuk melanjutkan sekolah untuk mengubah ambisi kami menjadi kenyataan.

Setelah membaca “buku harian Anne Frank” ambisi saya adalah untuk menjadi seorang jurnalis. Jadi saya mengambil kesempatan ini untuk menceritakan sepotong kisah hidupku. Saya ingin memberitahu dunia bagaimana rasanya menjadi miskin. Saya harap cerita saya akan membantu untuk kehidupan yang lebih baik bagi semua orang. Saya berharap nanti sebagai jurnalis saya bisa mendapatkan uang dan membuat impian kami tentang tempat yang indah menjadi kenyataan.
(yc/bali.post)
sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s