Workshop Perlindungan Anak Dari Dampak Iklan, Promosi Dan Sponsor Rokok


Revalensi perokok pemula pada kelompok umur 5-9 th cenderung meningkat dari 0,4% (2001) menjadi 1,8% (2004), hal ini tidak terlepas dari menurunnya komitmen bersama dalam melindungi hak hidup anak, namun di sisi lain agaknya kita juga masih terkotak-kotak dalam menyelesaikan dan memandang masalah. Selama ini kita masih tidak melihat musuh bersama (seperti iklan rokok) sehingga kita sulit mendapatkan pemecahan dalam mengatasi minat rokok yang meningkat Ujar Meutia Hatta Swasono saat membuka workshop bertema Perlindungan Anak dari Dampak Iklan, Promosi dan Sponsor Rokok, Jakarta.

Iklan, promosi dan sponsor rokok berperan penting dalam menciptakan budaya merokok pada remaja. Berdasarkan penelitian dampak keterpajanan iklan dan sponsor rokok terhadap kognitif, afeksi dan perilaku merokok remaja yang dilakukan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) tercatat 46,3% menunjukan pengaruh besar untuk memulai merokok. Hasil survey yang dilakukan oleh Global Youth Tobacco (2006), prevalensi merokok remaja usia 13-15 th laki-laki adalah 24,5% sedangkan remaja perempuan mencapai 2,3%. Iklan-iklan termasuk iklan, promosi dan sponsor rokok mengancam hak hidup anak dan perlindungan anak, karena sudah mendorong anak untuk merokok, sebagaimana dikatakan Sekretaris Jendral Komnas PA. Dihadapan 50 peserta yang hadir dari berbagai elemen baik pemerintah, masyarakat, NGO dan pihak lain yang peduli terhadap anak.

Meutia menambahkan, Rokok masih menjadi ancaman besar tidak hanya bagi anak namun orang dewasa, sehingga kita harus lebih berani menolak bentuk sponsorship atau iklan yang terbukti produknya yang tidak sejalan.

Guna mengurangi dampak yang tidak menguntungkan anak tersebut maka perlu adanya penanganan yang sinergis dan mutualistik dimana kerjasama di dalam kebersamaan saling menguntungkan sangat dibutuhkan untuk merubah pola pikir masyarakat dan anak pada khususnya, yang semula menganggap merokok merupakan citra eksekutif, macho, gaya hidup modern (trendy), diubah menjadi merokok bukan gaya hidup modern, terbelakang, kuno dan pemahaman tabungan kesehatan, harus dilakukan.

Hal tersebut, bisa dilakukan melalui iklan yang kreatif dan bagus sebagai media paling efektif dalam pembentukan image. Selain itu, perlu diupayakan penanaman pola pikir pada pemain industri rokok untuk tidak merasa menjadi lembaga yang hebat dan berdaya apabila yang mereka lakukan penghancuran bangsa khususnya anak sebagai generasi penerus dengan menjadikannya sasaran perokok pemula. Regulasi untuk melindungi masyarakat, anak dan remaja dari bahaya merokok masih sangat kurang.

Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2003 tentang larangan iklan rokok di TV pada tayangan antara jam 17.00 WIB s.d 21.30 WIB, larangan merokok di tempat ibadah, sarana kesehatan dan pendidikan, tempat anak-aak beraktivitas, tempat dan kendaraan umum, larangan pemberian rokok secara gratis, dianggap kurang efektif dalam mengatasi masalah rokok.

Belum diratifikasinya Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) untuk melindungi secara global generasi sekarang dan masa depan dari dampak merusak terhadap kesehatan, sosial, lingkungan dan ekonomi akibat penggunaan tembakau dan paparan terhadap asap tembakau, merupakan pekerjaan rumah bersama.

sumber: http://www.menegpp.go.id/en/index.php?option=com_content&view=article&id=80:workshop-perlindungan-anak-dari-dampak-iklan-promosi-dan-sponsor-rokok&catid=36:press-release&Itemid=87

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s